Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Mimpi......

Dekap aku bulan... Dekap kuat-kuat.. Dekap dalam hasrat Yang erat mengikat. Kecup aku bintang Lewat pijar gemintang Di langit hitam terbentang Riuhkan geram garang Bisik aku, hujan Bisik pelan-pelan Di ambang angan-angan Tanpa embun jua awan Bulan, Bintang, Hujan, izinkan sebait sajak mampir di tepi Rumah-mu, malam ini Sebentar saja Di sana Di ruang sederhana, Mimpi namanya.

G.A.L.A.U

“Mungkin tak perlu lagi menunggu jingganya. Mungkin tak harus lagi mendekap hangatnya. Senja sore ini, mungkin yang terakhir.” Apakah tercium jejak-jejak galau pada kalimat di atas? Hei, itu tweet saya sebelumnya. Saya menuliskannya dengan penuh perasaan. Saya nggak tau sih apakah kalimat-kalimat yang mendayu-dayu termasuk dalam kategori galau. Tapi sejauh ini saya suka membaca kalimat-kalimat seperti itu di social network, lebih-lebih menulisnya, saya suka sekali. Ngomong-ngomong tentang ‘galau’, saya beberapa kali mendapati tweet teman yang (mungkin) terganggu dengan beberapa kawannya yang suka menuliskan kalimat-kalimat galau, atau mungkin pada mereka yang suka membagikan update mengharu biru. Kadang, iya itu mengganggu. Tapi kadang, itu lucu dan mengasyikkan. Ada permainan kata disana. Ada diksi. Ada sebuah kreativitas yang tidak pernah disadari banyak orang yang sedang galau. Then, What’s WRONG with ‘galau’? Kalau dilihat dari disisi negatifnya, menyebarkan ‘galau’ ...