Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Hanya Kata

Jadi Perempuan Itu...

Ditakdirkan jadi anak perempuan itu susah-susah gampang. Banyak susahnya daripada gampangnya, hehe (gak juga kok) 😀 Harus berpendidikan, namun tidak lupa kodratnya untuk mengurus rumah. Dari mulai paham bumbu masakan, mencuci baju, menjemur pakaian, menyetrika, mencuci piring, sampai bagaimana mengepel yang benar. Harus pintar nawar! itu kewajiban, apalagi berkaitan dengan budget yang dimiliki Harus paham perhitungan pemasukan dan pengeluaran, harga cabai hari ini pun perlu dipantengin. Emansipasi? iya perlu, kita punya hak yang perlu diperjuangkan, namun tetap dibungkus kesantunan. Lalu, bagaimana dengan penampilan? kodratnya, perempuan ingin terlihat cantik. Semua perempuan. Tapi ada yang memilih untuk menyederhanakan. Menjaga untuk tidak berlebihan, menjaga agar tetap sesuai perintah agama. Menjaga agar mahkota tetap terjaga. Menutup aurat memang sudah menjadi kewajiban, tinggal pilihannya adalah menyederhanakan atau melebih-lebihkan. Kita tahu bahwa perempuan identik...

Puisi_dan_Renungan

Part #1 selamat malam, Tuhan izinkan aku menyapamu lewat doa setiap malam, menegurmu lewat sujud-sujudku yang tak pernah selesai apa kabarmu, Tuhan? apakah Kau masih melihatku dengan tatapan kasih sayang? atau kau mulai bosan, dengan semua keluhku yang tidak tahu aturan? aku seharusnya tak pernah melupakanMu, Kau tak pernah terlelap dalam diam, ataupun dalam hingar bingar kehidupan lalu aku, mungkin hanyalah hamba yang datang padamu saat terluka, dan lebih sering pergi saat sedang bahagia, adilkah jika kumohon padaMu, agar tak menutup pintu surga untukku? Part #2 Duduk bersimpuh menghambur ribuan keping doa Dalam khusyuk, bisu dan hati yang bicara sibuk melerai gundah & penat jiwa Tak perlu memilih yang mana, Tuhan karena toh semuanya sama.. Terserah saja mana yang ‘kan Kau kabulkan karena ‘ku tengah berdoa.. Lihat, hanya ada aku di sepertiga malam-Mu, Tuhan malam dimana seringkali kuistirahatkan raga & pikirku raga ini sungguh lelah, Tuhan pi...

Ketika Perbedaan Menyempurnakan

Tidak ada manusia yang terlahir sempurna, karenanya perlu oranglain untuk menyempurnakannya. Botol menjadi sempurna karena tutupnya, HP menjadi sempurna bila ada baterainya, siangpun menjadi sempurnya bila malam menggantikannya. Bagaimana botol bisa menjaga air tidak tumpah karena guncangan bila tak ada tutupnya, maka tutuplah yang menyempurnakan kekurangan botol. Tanpa Baterai bagaimana HP bisa hidup, begitu juga baterai tak akan berfungsi tanpa HP. Siang tak memiliki gelap malampun tak memiliki terang renanya mereka hadir untuk menyempurnakan kehidupan. Bulanpun tak mampu sendirian untuk menghias malam, ia butuh bintang untuk membuat malam lebih menawan. Secerah apapun mentari ia masih butuh pelangi untuk menghias hari. Untuk sempurnanya semua musti saling melengkapi bukan mengurangi dan membenci. Untuk sempurna kita musti menghargai perbedaan kerena perbedaanlah penyempurna atas kekurangan yang kita punya. Untuk sempurna kita tidak bisa hidup seorang diri butuh oranglain yan...

Aku Menyayangimu...(Ibu&Ayah)

Ibu.... Padamu, aku belajar banyak, puan. Perihal menjadi kuat bukan hanya perkara membesarkan otot dan perkataan;ialah berada pada kecemasan yang berhasil ditaklukkan. Perihal menjadi sabar bukan hanya perkara menanti senja yang kerap datang; ialah berada pada ketidakpastian yang tak lepas dari doa-doa. Perihal mencintai bukan hanya perkara hak milik dan memberikan segala; ialah berada pada doa dan keikhlasan. Jika kelak seorang laki-laki bertanya, mengapa aku menjadi seorang perempuan yang begitu kuat menghadapi badai yang tak berkesudahan, begitu sabar menghadapi duka melalui doa-doa, atau begitu mencintai meski tak diinginkan; aku akan berkata, "ialah ibuku, yang mengajariku demikian." Ayah.... Kelak, akan ada laki-laki yang mencintaiku serupa engkau mencintai perempuan yang melahirkanku. Seorang laki-laki yang dicintai dalam setiap napas doa yang begitu ikhlas terjatuh. Seorang laki-laki, yang kelak mencintaiku utuh, sepertimu. Terima kasih untuk bertahan hin...

Mimpi......

Dekap aku bulan... Dekap kuat-kuat.. Dekap dalam hasrat Yang erat mengikat. Kecup aku bintang Lewat pijar gemintang Di langit hitam terbentang Riuhkan geram garang Bisik aku, hujan Bisik pelan-pelan Di ambang angan-angan Tanpa embun jua awan Bulan, Bintang, Hujan, izinkan sebait sajak mampir di tepi Rumah-mu, malam ini Sebentar saja Di sana Di ruang sederhana, Mimpi namanya.

P.I.L.I.H.A.N

percakapan itu hanya makan waktu sebentar.. hanya curahan hati dua orang berbeda yang kebetulan satu harapan.. sama-sama ingin yang terbaik untuk masa depan.. Sebelumnya saya merasakan hidup saya ini penuh dengan kesulitan,mumet. terlalu banyak hal yang harus dikerjakan,bikin empet.. ternyata dia juga sama.. hidup ini penuh dengan bermacam pilihan yang masing-masing menawarkan nikmat dan kiamatnya sendiri. tapi tetap manusia harus hidup dan memilih berdasarkan skala prioritas diri.. kita yang paling tahu apa yang terpenting untuk dijalani.. apakah itu berguna atau hanya sekedar memuaskan diri.. Kita manusia hidup dengan pilihan.. kadang godaan untuk duniawi semata datang bertubi.. tapi dibalik itu masih banyak kewajiban yang belum digenapi..

S.E.N.Y.U.M.A.N

Kali ini tulisan-ku tak bertema. Hanya saja menjabarkan satu cerita sederhana. Mungkin lebih tepat nya deskripsi. SENYUMAN. Ya, hari ini aku ingin tersenyum kepada-mu, memancarkan apa yang ingin tersampaikan melalui senyuman. Aku-lah sang pengembara tanpa doa. Berusaha mencari goa dalam dunia, memasukinya, lantas tersenyum pada penghuni dunia. Aku punya berjuta alasan untuk tersenyum. Mengibakkan sayap kebahagiaan. Menepis s'gala penat, dan tetap tersenyum. Raih tangan-ku kawan, dekap aku dalam senyuman meski gemericik hujan siap menghantam pori-pori pada kulit tipis tubuh-mu, kulit tipis tubuh kita. Tersenyumlah kawan. Takdir-mu terlalu gelap untuk di-tangisi. Aku punya cara. Pegang ini. Lolipop warna-warni yang tengah terbanjiri kesetiaan. Kunyah-lah ini bersama puing-puing kehancuran, agar segala beban-mu terhempaskan warna pelangi. Lenyap, dan lagi-lagi bersama senyuman. Tak perlu khawatir, senyuman haru kian menjelma menjadi sebait doa yang siap mengiring-mu, tak seperti ...