Langsung ke konten utama

G.A.L.A.U

“Mungkin tak perlu lagi menunggu jingganya. Mungkin tak harus lagi mendekap hangatnya. Senja sore ini, mungkin yang terakhir.”

Apakah tercium jejak-jejak galau pada kalimat di atas?

Hei, itu tweet saya sebelumnya. Saya menuliskannya dengan penuh perasaan. Saya nggak tau sih apakah kalimat-kalimat yang mendayu-dayu termasuk dalam kategori galau. Tapi sejauh ini saya suka membaca kalimat-kalimat seperti itu di social network, lebih-lebih menulisnya, saya suka sekali.


Ngomong-ngomong tentang ‘galau’, saya beberapa kali mendapati tweet teman yang (mungkin) terganggu dengan beberapa kawannya yang suka menuliskan kalimat-kalimat galau, atau mungkin pada mereka yang suka membagikan update mengharu biru.

Kadang, iya itu mengganggu. Tapi kadang, itu lucu dan mengasyikkan. Ada permainan kata disana. Ada diksi. Ada sebuah kreativitas yang tidak pernah disadari banyak orang yang sedang galau.

Then, What’s WRONG with ‘galau’?

Kalau dilihat dari disisi negatifnya, menyebarkan ‘galau’ adalah sebuah kesalahan besar. Coba aja bayangkan ketika kita sedang asyik ber-socnet¬-ria, tiba-tiba kita membaca satu update yang galau, kemudian menyusul dua update galau, lalu secara beruntun muncullah update-update galau yang tidak kalah galau dengan update pertama yang kita baca tadi. Padahal, tujuan pertama ketika kita membuka facebook atau twitter adalah mencari suasana berbeda, mencari kesenangan, bukan mencari kesedihan.

Ahh ya, mengganggu sekali. Apalagi kalau update galau yang dibaca adalah milik akun yang itu-itu saja. Dan dalam hati kita akan segera berkata “Andai aku bisa men-delete dengan bebas akun ini dari friendlist tanpa merasa sungkan.” Atau mungkin. “Ini orang kok sediiiiihhhh terus, apa nggak pernah bahagia? Nggak bersyukur banget sih jadi orang?”

Hehe, saya pernah lho nge-batin seperti itu. Karena saat itu, saya sedang sepenuhnya menjejakkan kaki di atas bumi. Saya dengan penuh kesadaran menjalani hidup ini dengan semangat pantang menyerah sampai titik darah penghabisan.

Tetapi, saat saya sedang dirundung awan mendung, patah hati dan lain-lain. Tanpa sadar saya juga akan menuliskan kalimat-kalimat ‘galau’. Sungguh, itu terjadi diluar kesadaran. Mungkin saat itu, kaki saya tidak sepenuhnya terjejak di atas bumi, nggak tau deh di mana. Dan iya, setelah itu, keesokkan harinya, ketika saya membaca ulang update-update saya, saya akan begitu menyadari betapa ‘galau’ nya saya kemarin. Dan betapa saya sudah mengganggu para followers dan friend saya dengan sampah-sampah galau!!!

Tapi…

Meski saya sadar, betapa mengganggunya update itu. Saya nggak serta merta meng-klik remove. Saya biarkan update ‘galau’ itu tetap duduk manis ditempatnya. Apa salahnya membiarkannya tetap menjadi kenangan?

Karena taukah yang saya dapat setelah itu?

Saya jadi memiliki ide untuk menulis. Iya, menuliskan update ‘galau’ saya yang hanya sepenggal kalimat menjadi sebuah cerita. Dan itu adalah salah satu sisi positif yang bisa didapat dari sebuah kalimat galau. Sebuah kreativitas terselubung. Kadang seorang yang galau bisa dengan mendadak menjadi penulis atau penyair yang paling melankolis sedunia.

Hei, bukankah itu artinya adalah karya? Meski terasa sendu, tapi itu karya. Tidak semua orang bisa membuatnya. Tidak semua orang bisa memilih diksi dengan tepat, dan menjadi sebuah rangkaian kata sendu menyayat yang kadang bisa membuat orang yang membacanya menjadi ikut sendu dan mungkin menjadi sebal?

ITU KARYA LHO……

Hmmm, jadi, saya cuma mau berkata bahwa….

Untuk yang sebal karena orang-orang galau. Secara sadar atau tidak, setiap orang pasti pernah galau. Hanya saja, setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk mengekspresikan kegalauannya. Jadi, biarkanlah mereka yang sedang galau menuliskannya dalam berderet-deret kalimat, atau mungkin hanya sepenggal. Itu hanya cara mereka untuk melampiaskan rasa, dan menghindarkan diri dari sakit jiwa karena tidak mampu berekspresi.

Tapi, untuk kawan-kawan yang sering galau. Ingat, jejaring sosial itu milik bersama. Jadi jangan menjadi egois, dan memenuhi timeline teman kita dengan segala harubiru, dan rasa galau. Meng-galau-lah dalam batas-batas normal. Karena hidup ini indah. Apapun yang terjadi pada kita, adalah hal terbaik untuk kita.
Jadi mari sibukkan diri dengan mempelajari bagaimana cara menyikapi semua kejadian yang terjadi, bukan terus-terusan sibuk dengan kegalauan.

Mari bersyukur, ada banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan selain galau karena satu hal.

Karena sebenarnya GALAU itu kepanjangan dari “God Always Listening And Understanding”.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulau Palue dan Gunungapi Rokatenda

Pada bulan Maret 2015 lalu, saya (mau tidak mau, ngeri campur 'exited') berangkat dari desa Aewora kabupaten Ende menuju pulau Palue yang terkenal dengan letusan gunungapi nya yang dasyat di tahun 1928 silam dengan status yang sekarang waspada dan masih aktif.Lebih kurang 2 jam berperahu dari desa Aewora, gunung Rokatenda dengan kawah terbuka menghadap laut terlihat angker. Asap tipis menguar dari gunung itu. Pulau Palue sebenarnya adalah tubuh gunungapi Rokatenda, yang menjulang dari dasar laut Flores dengan ketinggian 3.000 meter dengan 875 meter bila diukur dari permukaan laut. Palue dalam bahasa masyarakat setempat berarti 'mari pulang'.Pulau Palue sendiri secara geografis berada di wilayah kabupaten Ende namun secara history dan administratif masuk ke dalam wilayah pemerintahan kabupaten Sikka. Pulau Palue memiliki luas lebih kurang 39,5 km2 terbagi menjadi 8 desa yaitu; Lidi, Maluriwu, Reruwairere, Kesukoja, Ladolaka, Tuanggeo, Rokirole dan NitungLea. Dengan has...

Kumpulan Pertaruhan demi Pertaruhan

Tidak ada yang tahu kapan ia menunjukkan taringnya, pun sama halnya dengan ketidaktahuan manusia akan hawa manis yang seketika menyergap ketika ia sedang berbaik hati. Ada kalanya manusia mengalami fase bermusuhan dengan hidup. Mendadak palung hidup menjadi terlalu besar untuk menampung curah tangis yang terlampau meruah. Ada pula masanya ia mengalami fase berakrab-akrab dengan kekosongan hidup, yang kemudian dipandang sebagai isi: zona nyaman yang cenderung sulit untuk diabaikan. Manusia tidak akan pernah benar-benar tahu di fase mana ia berada sekarang. Titik tertinggi logika hanya dapat memahami kebahagiaan, tanpa menyadari bahwa di dalamnya acapkali terselip semburat halus pahit. Titik tertinggi logika hanya dapat memahami kesedihan, tanpa menyadari bahwa di balik semua itu masih terselip cercah harap yang dapat dikategorikan sebagai: bahagia. Sulit untuk merasa bahagia hingga titik darah penghabisan, pun sama sulitnya untuk merasa kecewa hingga tetes keringat terakhir. Hidup i...