Langsung ke konten utama

MUHASABAH - Allah Sang Mahasutradara

"Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di depan Allah, begitu pula sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Dialah Sang Mahatahu akan segala sesuatu…”
Buat saya, hidup itu seperti layaknya sebuah film. Kita adalah aktor-aktor yang sedang menjalani sebuah script atau skenario, sedangkan Tuhan adalah sutradaranya. Film (kehidupan) saya dan film (kehidupan) kamu, pasti berbeda. Tapi, meski berbeda bukan berarti kita tidak pernah ada dalam satu frame yang sama. Mungkin saja kita yang berada di belahan bumi yang berbeda dipertemukan oleh-Nya untuk menjalani sebuah skenario; misalnya saling bertemu, mengerjakan sesuatu bersama, atau cuma sekadar saling sapa satu sama lain. Tapi sebaliknya mungkin saja kita yang duduk bersebelahan justru tidak saling mengenal satu sama lain karena kita lalu pergi begitu saja tanpa ada percakapan/perkenalan sama sekali. Bisa saja, kan?

Sesekali dalam hidup, kita pasti akan tertawa. Dan sebagai penyeimbang, kita pun pasti pernah menangis. Walau demikian hidup harus tetap berlanjut, kan? Dalam skenario itu mungkin kita harus beradegan berlari, terjatuh, berjalan, merangkak, bahagia, terluka, menangis dan tertawa, begitu seterusnya untuk menggenapkan skenario yang sudah ditulis oleh-Nya.

Saya adalah salah satu yang telah menjalani sebagian skenario-Nya. Hidup saya tidak selalu bahagia, tapi juga tidak selalu sedih. Namun apapun itu saya syukuri tiap sesi dalam hidup saya, karena saya yakin bahwa Allah punya rencana mahaindah yang tidak saya ketahui. Saya juga yakin dengan janji Allah, bahwa Dia tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Dan, Dia menepatinya. Saya adalah salah satu ‘korban’ ketakjuban betapa indah skenario yang telah dibuat Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Sebagai manusia yang punya banyak sekali kekurangan, saya juga sering melakukan perbuatan dosa, baik sengaja atau tidak. Dan selama itu pula Allah masih bersabar melihat tingkah laku saya. Hingga akhirnya Allah menegur saya dengan sebuah kejadian yang menjadi sebuah turning point dalam hidup saya. Kejadian yang sempat membolak-balikkan hati saya, menjungkirbalikkan nalar saya, me-roller-coaster-kan hidup saya. Di titik itulah saya sadar bahwa Allah sedang menegur saya dengan cara yang radikal; sekaligus menyapa saya dengan lembut.

“Kalau sudah begini, kamu mau minta tolong sama siapa? Manusia?”

Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. There’s a blessing in every disguise. Saya yang dulu sering melalaikan shalat, saya yang jarang bersedekah, saya yang jarang mengingat Allah, saya yang pecicilan sana-sini, pelan-pelan berubah. Saya luruh dalam tangis memohon ampun di setiap sujud di waktu shalat. Ya, saya pernah berada dalam fase sejahiliyah itu. Keimanan saya masih sangat tipis di usia yang seperempat abad ini

Seringkali kita menyebut sebuah kejadian itu cuma sebuah kebetulan, padahal tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau (iseng) kita tengok lagi ke belakang tentang film kehidupan kita, pasti ada episode di mana kita mengalami adegan-adegan layaknya sebuah kebetulan, padahal semuanya adalah hasil campur tangan Allah Azza Wa Jalla.

Ya Allah, terima kasih untuk semua reminder-Mu. Terima kasih untuk semua peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Apapun itu. Terima kasih karena masih berkenan mengingatkan hamba-Mu yang suka bertingkah semau-maunya ini.
Terima kasih, karena masih Engkau izinkan kami untuk meneruskan film kehidupan kami di planet bumi yang merupakan panggung termegah kami ini.
Alhamdulillah 2017, Bismillah 2018.

Buat pembaca, terima kasih ya sudah membaca endapan pikiran dan emosi semi kontemplasi ini. Selamat menjalani kehidupan yang baru bersama orang-orang tercinta. 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Alasan Sederhana

Pertama kali aku melihat Danau Kelimutu ya di uang lima ribuan waktu kecil dulu. Waktu itu tentu saja aku belum tahu letak dari danau itu. Baru kemudian bertahun-tahun setelahnya aku kembali mendengar tentang Danau Kelimutu di salah satu situs web. Judulnya kalau tidak salah ingat, tujuh danau tercantik di Indonesia. Ya, ternyata Danau kelimutu adalah salah satu dari danau tercantik yang terletak di timur Indonesia. Entah kebetulan atau kesempatan pada Agustus 2014 aku ditugaskan mengajar di Flores selama satu tahun. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengunjunginya ketika sudah sampai di Ende. Danau Kelimutu adalah destinasi wisata utama Kabupaten Ende, nusa tenggara timur. Kecantikannya sudah sangat terkenal baik secara lokal maupun internasional. Danau di Kelimutu tidak seperti danau pada umumnya. Karena memang danau ini hasil dari letusan gunung, bekas kubah kawah. Bahkan aku masih bisa mencium bau belerangnya, setiap danau berada dalam cekungan raksasa yan...

Anak-anak Kampung Waerebo

Lihatlah wajah-wajah polos mereka dengan ingus yang berleleran asyik bermain di pelataran tanpa beban, mengingatkan pada masa kecil yang pernah kau punya. Ketika jungkir balik tak karuan tak mendapat teguran ketika berdekatan dengan lawan jenis tak meninggalkan kesan. Bahkan juga ketika tak berbaju pun dianggap wajar. Ingatlah kepada masa dimana rasa ingin tahu selalu menebal melihat orang baru tanpa rasa gentar, memperkenalkan diri merasa selalu benar. Menari tanpa aturan mengikuti suara hati, melintasi padang ilalang sambil berlari, tak malu badan masih bau karena belum mandi. Pernahkah kamu rindu pada masa-masa itu, menebak bentuk awan tanpa takut hujan kan datang? Mendengar deru angin tanpa peduli pada badai siang. Memetik bunga-bunga tanpa tahu kapan berbuah. Mencabuti rumput-rumput tanpa berpikir selalu tumbuh. Tahukah dunia yang acak seperti segenggam tanah disini sama benar dengan hempasan ombak di tepi laut sana? Bahwa tawa anak-anak di seluruh negeri seperti ini? "M...

P.I.L.I.H.A.N

percakapan itu hanya makan waktu sebentar.. hanya curahan hati dua orang berbeda yang kebetulan satu harapan.. sama-sama ingin yang terbaik untuk masa depan.. Sebelumnya saya merasakan hidup saya ini penuh dengan kesulitan,mumet. terlalu banyak hal yang harus dikerjakan,bikin empet.. ternyata dia juga sama.. hidup ini penuh dengan bermacam pilihan yang masing-masing menawarkan nikmat dan kiamatnya sendiri. tapi tetap manusia harus hidup dan memilih berdasarkan skala prioritas diri.. kita yang paling tahu apa yang terpenting untuk dijalani.. apakah itu berguna atau hanya sekedar memuaskan diri.. Kita manusia hidup dengan pilihan.. kadang godaan untuk duniawi semata datang bertubi.. tapi dibalik itu masih banyak kewajiban yang belum digenapi..